APA YANG ADA DI FIKIRAN ANDA KETIKA MELIHAT GAMBAR DI SAMPING ?
Miris....
Penulis rasa itu kata-kata yang cocok untuk gambar diatas.
Pemandangan yang sering terlihat sehari-hari, dan terkesan terbiarkan oleh kita.
Terbiarkan, terabaikan, apakah benar-benar itu yang terjadi ?
dimana kepedulian kita ?
Sebagai seorang petugas yang bekerja di bagian sosial dan penyelamatan, hati penulis selalu dihantui dengan perasaan bersalah atas pemandangan yang seharusnya tidak menjadi sesuatu wajar dipandangan kita.
Saya Peduli, dan apakah cuma saya yang peduli ?
ternyata tidak, kita semua pada hakekatnya pasti peduli.
salah satu contoh kepedulian itu penulis temukan pada artikel di blog kompasiana dengan judul "Menyoal Bangkai Binatang di Jalan Raya Umum" yang di tulis oleh Bapak. Amin Laili,
berikut tulisan nya
Pemandangan seperti kalimat judul di atas banyak dijumpai di Indonesia, tidak hanya di jalanan terpencil sepi penduduk, tetapi juga di keramaian kota. Biasanya berupa bangkai binatang liar yang dibenci manusia seperti tikus dan ular, tetapi tidak jarang terlihat pula bangkai kucing, anjing, atau ayam. Di beberapa daerah seperti Sumatera Selatan beberapa kali ditemukan bangkai kera di jalan lintas kendaraan. Yang kerap menjadi masalah adalah jika bangkai tersebut berada di badan jalan dan tak terhindarkan lagi bagi kendaraan yang melintas kecuali menerjang dan melindasnya. Jika pengendara berusaha menghindar, maka bukan tidak mungkin yang terjadi adalah hal fatal bagi kendaraan dan penumpangnya. Apa hendak dikata, andai tak tegapun akan ditega-tegakan melindas bangkai malang tersebut. Agar tidak merasa bersalah, setidaknya ada alasan pembenar seperti “Manusia saja dalam kondisi dilematis jika harus memilih untuk menyelamatkan jiwa yang masih hidup atau ‘mengamankan’ jasad yang sudah meninggal, maka harus menyelamatkan jiwa yang masih hidup, apalagi ini binatang, sudah mati lagi”, maka bruss…. dilindas saja dengan segala rasa bersalah, sedih, kasihan, marah, dan entah apalagi.
Jika bangkai masih utuh atau setidaknya sedikit basah, akan menimbulkan efek psikologis yang lebih berat dibandingkan jika bangkai sudah mengering atau bahkan tinggal tulang belulang yang rata dengan jalan.
Bagi pengemudi mobil, melindas bangkai binatang di jalan akan lebih ‘nyaman’ dibandingkan dengan pengemudi motor, namun yang paling ‘meresapi dan menghayati’ tentu pengguna jalan yang hanya berjalan kaki atau berlari karena tidak saja jarak dan pandangan yang sangat dekat dan gamblang, bahkan aroma anyir pun ikut ‘menyempurnakan’ nasib buruknya bertemu dengan bangkai di jalan. Pendek kata, bangkai di jalan sangat mengganggu pengguna jalan bagaimanapun bentuk bangkai itu, dan dengan cara apapun seseorang melintasinya.
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa bangkai binatang tersebut ada di jalanan? Apakah karena ‘kehendak’ sendiri binatang itu ataukah ‘ada yang memaksa’-nya berada di situ?
Menjadi mafhum jika keberadaan bangkai tersebut di jalanan adalah ‘kehendak’ si binatang malang, misalnya ketika menyeberang jalan ‘kurang hati-hati’ dan ‘tidak tengok kiri-kanan’ kemudian tertabrak kendaraan dan mati di tempat serta tidak ada yang mengamankannya. Namun di banyak kasus, keberadaan bangkai binatang di badan jalan adalah ulah manusia yang sengaja melemparkan bangkai tersebut di jalan umum. Tidak jelas benar apa motiv melakukan hal itu. Apakah bermaksud mengamankan bangkai agar cepat mengering karena dilindas berulang-kali oleh kendaraan yang lewat, ataukah orang tersebut bermaksud menjauhkan diri, keluarga, dan tetangganya dari penyakit yang dibawa bangkai dan menganggap jalan umum sebagai tempat paling efisien mematikan kuman, misalnya dia berfikir kalau di jalan raya kuman akan mati karena tersengat oleh matahari. Atau bukan tidak mungkin ada motiv dendam kepada bangkai karena ketika masih hidup mengganggu rumah-rumah manusia.
Apapun alasannya, membuang bangkai binatang di jalan raya umum adalah tindakan sangat tidak bertanggungjawab.
Ditinjau dari segi kesehatan, justru akan semakin menyebarluaskan kuman penyakit yang berasal dari bangkai. Tidak saja menyebar di sekitar ‘TKP’ tetapi ke seluruh tempat yang dijangkau oleh kendaraan yang sempat melindasnya, termasuk ke garasi-garasi rumah.
Pandangan moral pun akan sangat mengecam tindakan membuang bangkai di jalan raya seperti itu. Ada semacam pemaksaan agar orang berlaku sadis karena disudutkan untuk melindas jasad makhluk bertulang-berdaging. Itu tidak ubahnya pelatihan kekejaman gratis di ruang publik. Bukan memupuk sikap sayang binatang, tetapi menumbuhsuburkan mental ‘berdarah dingin’ kepada binatang, bahkan jika hal ini dibiarkan dan terus dibiasakan, akan merembet kepada sikap mental perlakuan yang sama diterapkan kepada manusia, cikal bakal tragedy kemanusiaan yang mengerikan.
Sudut pandang budaya pun sangat tidak dapat membenarkannya. Setiap masyarakat harus mengembangkan budaya yang bersumber dari nilai luhur dan bermuara kepada martabat dan kemajuan bangsa. Nilai luhur apapun mengajarkan bahwa bangkai harus diperlakukan sedemikian rupa agar jauh dari lingkungan kehidupan manusia dan yang paling lazim dan mudah adalah dengan cara dikubur. Disamping merupakan ajaran agama, manfaat yang dirasakan dari mengubur bangkai adalah menghindarkan kehidupan dari dampak buruknya, karena sedikitnya, bangkai di udara terbuka adalah sumber penyakit berbahaya dan menyebarkan aroma tidak sedap.
Membayangkan sesosok tangan sedang berjalan menenteng bangkai tikus kemudian melemparkannya ke tengah jalan raya adalah membayangkan perbuatan sangat tidak terhormat, tidak sopan, dan buruk. Itu sosok tidak bermartabat. Andai dia orang yang berpendidikan serendah apapun, maka sungguh dia hanya pernah sekolah tetapi gagal mendidik dirinya dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh semua mata pelajaran. Pribadi yang terdidik itu berbudaya menawan, tetapi pembuang bangkai telah menghiasi perilakunya dengan budaya yang sangat tidak elok, budaya yang bukan milik bangsa yang ingin maju.
Dari kacamata keindahan, apalagi,…. Bangkai di jalan raya umum merusak keindahan bagi masyarakat sekitar maupun ‘tamu-tamu’ yang kebetulan sedang melintas. Satu orang saja yang melakukan perbuatan itu, maka seluruh orang di sekitar itu akan dituduh perusak keindahan, jorok, dan label tidak enak lainnya. Nila setitik, rusak susu sebelanga.
Sangat naïf jika memahami bahwa ‘noktah’ bangkai di jalan adalah ‘karya seni’. Silakan membuat karya seni dan menikmatinya sebebas-bebasnya berekspresi, tetapi ada bingkai yang membatasi, yaitu kanvas, dan jalan raya umum terlarang diperlakukan sebagai kanvas. Terjemahkanlah kata “kanvas” itu seluas mungkin selama tidak mengganggu ruang publik dan kepentingan umum, apalagi membahayakan kesehatan dan nyawa orang lain.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian masyarakat bangsa ini belum memiliki kesadaran yang baik tentang ruang publik, fasilitas umum, bersama-sama menjaga kesehatan dan keindahan, budaya bermartabat dan maju, dan sebagainya. Bangkai di jalan raya umum adalah cermin kita semua, karena bagaimanapun mereka adalah saudara sebangsa kita. Barangkali karena kita pun belum sepenuhnya menularkan banyak budaya terpuji kepada sesama kita, maka masih ada sebagian yang ringan tangan membuang bangkai tikus dan semacamnya di jalan raya. Padahal seharusnya jangankan membuang bangkai di sana, seandainya ada binatang yang tetabrak dan kemudian mati tergelepar di jalan pun, seharusnya kita menyingkirkannya dan menguburkannya, karena Tuhan menurunkan manusia ini memang menjadi imam (khalifah) di muka bumi. Sudah seharusnya manusia menyayangi binatang, bahkan ketika binatang itu sudah mati sekalipun.
Artinya :
"Aku niat berwudlu" untuk menghilangkan hadas kecil fardlu karena Allah"
Teks Arab:
Do'a Setelah Mengambil Wudhu
Asyhadu alla ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu wa asyhadu anna muhammad 'abduhu warasuuluhu. Allahummaj' alni minat tawwaabiina, waj'alni minal mutathahhiriina, waj'alni min 'ibadikash shaalihiina.
Artinya :
"Aku bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukan bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah aku orang yang ahli taubat, dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang shaleh."
Rabbana zolamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lanakunna minal khosirin.
Birahmatika ya arrahamarrohimin
Allahummaf tahlana abwabal barokat, wa abwabal nikmat, wa abwabal riqki, wa abwabal kuat, wa abwabal sihat, wa abwabal salamat, wa abwabal afiat, wa abwabal jannah.
Allahumma firli zunubi waliwali daiya warhamhuma kama rabbayani saghiro.
Wali jami’il muslimina wal muslimat walmukmini na wal mukminat.
Birahmatika ya arrahamarrohimin.
Rabbana firlana wali ikhwa ninal lazi na sabaqunabil iman wala taj ‘al fi qulubina khilal lazi na amanu rabbana innaka ro ufurrohim.
Allahumma bihaqil fatihah
wasiril fatihah ya farijal gham ya kasifal gham ya man li ibadihi
Yaghfiru wayada fi’a bala ya allah
wayada fi’a bala ya rahman
wayada fi’a bala ya rahim
Allahumma rabbana taqabbal minna innaka antas sami ‘ul alim
waminzurriyatina ummatan muslimatalak wa arina mana sikana watub alaina innaka antat tauwaburrahim.
Wasallahuala saidina muhammad wa ala ali saidina muhammmad.
Da’ wa humfiha subhanakallahumma watah yatuhum fiha salam wa akhiruda’ wa hum anil hamdulillahirabbil alamin.
Lasy-syamsu yambaghii lahaa an tudrikal qamara, wa lal lailu saabiqun nahari, wa kullun fii falakiy yasbahuun.
Wa aayatul lahum, annaa hamalnaa dzur riyyatahum fil fulkil masyhuun.
Wa khalaqnaa lahum mim mitslihii maa yarkabuun.
Wa in nasya- nugriqhum falaa shariikha lahum, wa laa hum yunqadzuun.
Illa rahmatam minnaa, wa mataa'an ilaa hiin.
Wa idzaa qiila lahumuttaquu maa baina aidii-kum wa maa khalfakum la’allakum turhamuun.
Wa maa ta-tiihim min aayatim min aayaati Rabbihim illaa kaanuu ‘anhaa mu’ridhiin.
Wa idzaa qiila lahum, anfiquu mimmaa razaqakumullahu, qaalal ladziina kafaruu lil ladziina aamanuu, anuth’imu mal law yasyaa-ullaahu ath’amahuu, in antum illaa fii dhalaalim mubiin.
Wa yaquuluuna mataa haadzal wa’du in kuntum shaadiqiin.
Maa yanzhuruuna illaa shaihataw waahida-tan ta’khudzuhum, wa hum yakhish-shimuun.
Fa laa yastathii’uuna taushiyataw wa laa ilaa ahlihim yarji’uun.
Wa nufikha fish shuuri, fa idzaa hum minal ajdaatsi ilaa Rabbihim yansiluun.
Qaalu yaa wailanaa mamba’atsanaa mim marqadinaa, haadzaa maa wa’adar Rahmaanu, wa shadaqal mursaluun.
In kaanat illaa shaihataw waahidatan, fa idzaa hum jamii’ul ladainaa muhdharuun.
Fal yauma laa tuzhlamu nafsun syaiaw wa laa tujzauna illaa maa kuntum ta’maluun.
Dzaalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqin.
Al-ladziina yu-minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunash shalaata wa mim maa razaqnaahum yunfiquun.
Wal ladziina yu-minuuna bi maa unzila ilaika wa ma unzila min qablik, wa bil akhirati hum yuuqinuun.
Ulaa-ika 'alaa hudam mir Rabbihim wa ulaa-ika humul muflihuun.
Surat Al-Baqarah ayat 163
Wa ilaahukum ilaahuw waahidun, laa ilaaha ilaa Huwar Rahmaanur Rahiim.
Surat al-Baqarah ayat 255
Allaahu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qayyuum, laa ta-khudzuhuu sinatuw wa laa naumun, lahuu maa fis samaawati wa maa fil ardh, man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu ilaa bi idznihii, ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum wa laa yuhitthuuna bisyai-im min 'ilmihii ilaa bi maa syaa-a wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa wa huwal 'Aliyyul 'Azhiim.
Surat Al-Baqarah ayat 286
Rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiinaa au akhta-naa, Rabbana wa laa tahmil 'alainaa ishram kamaa hamaltahuu 'ala ladziina min qablinaa, Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihii (Wa'fu'annaa, waghfirlanaa warhamnaa 3x) Anta Maulaanaa fanshurnaa 'alal qaumil kaafiriin.
Surat Al-Ahzaab Ayat 56
Innallaaha wa malaa-ikatahuu yushal-luuna 'alan nabiyyi; yaa ayyuhal ladziina aamanuu shallu 'alaihi wa sallimuu tasliimaa.
Untuk susunan urutan pembacaan Yasin dan tahlil bisa berbeda pada setiap daerah.
Pada artikel ini penulis mencoba berbagi tentang pembacaan yasin dan kulhu tahlil dari awal sampai akhir pada kegiatan pengajian malam ke empat untuk mendoa’kan arwah Almarhummah Yulia Efrina Binti Amralis, bertempat di Rw 04 Bungkal, kelurahan Pasar Muara Tebo, Kecamatan Tebo Tengah Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, Sumatera.
Apabila ada masukan dan saran atas artikel ini, mohon di tulis di kotak komentar di bawah.
Semoga artikel ini bisa bermanfaat.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Yaa siin
Demi Al Quran yang penuh hikmah,
Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
(yang berada) diatas jalan yang lurus,
(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,
Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu".
Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka".
Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu".
Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas".
Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami".
Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas".
Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu".
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?
Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku.
Dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke surga". Ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.
Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".
Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.
Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.
Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.
Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.
Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,
supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.
dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.
dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu.
Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.
Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Takutlah kamu akan siksa yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat", (niscaya mereka berpaling).
Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.
Dan apabila dikatakakan kepada mereka: "Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu", maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata".
Dan mereka berkata: "Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?".
Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.
lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.
Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).
Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.
Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).
Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.
Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.
(Kepada mereka dikatakan): "Salam", sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): "Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.
Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",
dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.
Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan?.
Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).
Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya).
Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.
Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.
Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?
Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.
Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.
Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.
Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!
Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?"
Katakanlah: "Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.
yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu".
Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.
Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
Terjemahan surat Yasin ini di salin dari Aplikasi Ayat / Software Al Quran Digital untuk Windows, bagi sahabat yang mau download silahkan klik Gambar dibawah