Senin, 19 Desember 2016

Surat Al-Ikhlas


  • Bismillaahir Rahmaanir Rahiim 
  • Qul Huwallahaahu Ahad 
  • Allahush Shamad 
  • Lam yalid wa lam yuulad 
  • Wa lam yakul lahuu kufuwan ahad

Artinya :

  • Dengan menyebut Nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang.
  • Katakanlah : "Dialah Allah" yang maha Esa.
  • Allah adalah Tuhan yang tidak bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
  • Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
  • dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"

Teks Arab:



Shmily

From Chicken Soup For The Couple Soul - Laura Jeanne Allen

Kakek-nenekku sudah lebih dari setengah abad menikah, namun tetap memainkan permainan istimewa itu sejak mereka bertemu pertama kali.

Tujuan permainan mereka adalah menulis kata "shmily" di tempat yang secara tak terduga, Yang akan ditemukan oleh yang lain. 

Mereka bergantian menulis "shmily" di mana saja di dalam rumah. 
Begitu yang lain menemukannya, maka yang menemukan sekali lagi mendapat giliran menulis kata itu di tempat tersembunyi.

Dengan jari mereka menorehkan "shmily" di dalam wadah gula atau wadah tepung, untuk ditemukan oleh siapa pun yang mendapat giliran menyiapkan makanan.

Mereka membuatnya dengan embun yang menempel pada jendela yang menghadap ke beranda belakang, tempat nenekku selalu menyuguhkan puding warna biru yang hangat, buatannya sendiri.

"Shmily" dituliskan pada uap yang menempel pada kaca kamar mandi setelah seseorang mandi air panas; kata itu akan muncul berulang-ulang setiap kali ada yang selesai mandi. 

Nenekku bahkan pernah membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" di ujung gulungan itu.

"Shmily" bisa muncul di mana saja. 

Pesan-pesan singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa bisa ditemukan di dasbor atau jok mobil, atau direkatkan pada kemudi. 

Catatan-catatan kecil itu diselipkan ke dalam sepatu atau diletakkan di bawah bantal. 

"Shmily" digoreskan pada lapisan debu di atas penutup perapian atau pada timbunan abu di perapian. 

Di rumah kakek-nenekku, kata yang misterius itu merupakan sesuatu yang penting, sama pentingnya dengan perabotan.

Aku memerlukan waktu lama sekali sebelum benar-benar bisa memahami dan menghargai permainan kakeknenekku.

Sikap skeptis membuatku tidak percaya bahwa cinta sejati itu ada cinta yang murni mengatasi segala suka dan duka. 

Meski begitu, aku tak pernah meragukan hubungan kakek-nenekku, Mereka sungguh saling mencintai. 

Dengan cinta yang lebih mendalam daripada kemesraan yang mereka tunjukkan, cinta adalah cara dan pedoman hidup mereka. 

Hubungan mereka didasarkan pada pengabdian dan kasih yang tulus, yang tidak semua orang cukup beruntung untuk mengalaminya.

Kakek dan Nenek selalu bergandengan tangan kapan saja kesempatan memungkinkan. 

Mereka berciuman sekilas bila bertabrakan di dapur mereka yang mungil. 

Mereka saling menyelesaikan kalimat pasangannya. 

Setiap hari mereka bersama-sama mengisi teka-teki silang atau permainan acak kata. 

Nenekku membisikkan kepadaku bahwa kakekku sangat menarik, dan bahwa semakin tua Kakek semakin tampan. 

Menurut Nenek, dia tahu "bagaimana membuat Kakek bahagia.

" Sebelum makan mereka selalu menundukkan kepala dan mengucap syukur atas rakhmat yang mereka terima: keluarga yang bahagia, rezeki yang cukup, dan pasangan mereka.

Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi kelam: nenekku menderita kanker payudara. 

Penyakit itu pertama kali diketahui sepuluh tahun sebelumnya. 

Seperti yang selalu dilakukannya, Kakek mendampingi Nenek menjalani setiap tahap pengobatan. 

Dia menghibur Nenek di kamar kuning mereka, yang sengaja dicat dengan warna itu agar Nenek selalu dikelilingi sinar matahari, bahkan ketika dia terlalu sakit untuk keluar rumah.

Sekali lagi kanker menyerang tubuh Nenek. Dengan bantuan sebatang tongkat dan tangan kakekku yang kukuh, mereka tetap pergi ke gereja setiap pagi. 

Tetapi nenekku dengan cepat menjadi lemah sampai, akhirnya, dia tak bisa lagi keluar rumah.

Kakek pergi ke gereja sendirian, berdoa agar Tuhan menjaga istrinya. 

Sampai pada suatu hari, apa yang kami takutkan terjadi. 

Nenek meninggal.

"Shmily."

Kata itu ditulis dengan tinta kuning pada pita-pita merah jambu yang menghias buket bunga duka untuk nenekku. 

Setelah para pelayat semakin berkurang dan yang terakhir beranjak pergi, para paman dan bibiku, sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju mengelilingi Nenek untuk terakhir kali. 

Kakek melangkah mendekati peti mati nenekku lalu, dengan suara bergetar, dia menyanyi untuk Nenek.

Bersama air mata dan kesedihannya, lagu itu dia nyanyikan; lagu ninabobo dalam alunan suara yang dalam dan parau.

Tergetar oleh kesedihanku sendiri, aku takkan pernah melupakan saat itu. 

Karena pada saat itulah, meskipun aku belum dapat mengukur dalamnya cinta mereka, aku mendapat kehormatan menjadi saksi keindahannya yang abadi.

S-h-m-i-l-y : See How Much I Love You.

Lihat, betapa aku mencintaimu.

Terima kasih, Kakek dan Nenek, karena telah mengizinkan aku melihatnya.

Source : Book of Chicken soup for the couple soul


Siapa Yang Peduli ?


APA YANG ADA DI FIKIRAN ANDA KETIKA MELIHAT GAMBAR DI SAMPING  ?

Miris....
Penulis rasa itu kata-kata yang cocok untuk gambar diatas.
Pemandangan yang sering terlihat sehari-hari, dan terkesan terbiarkan oleh kita.

Terbiarkan, terabaikan, apakah benar-benar itu yang terjadi ?
dimana kepedulian kita ?

Sebagai seorang petugas yang bekerja di bagian sosial dan penyelamatan, hati penulis selalu dihantui dengan perasaan bersalah atas pemandangan yang seharusnya tidak menjadi sesuatu wajar dipandangan kita.

Saya Peduli, dan apakah cuma saya yang peduli ?
ternyata tidak, kita semua pada hakekatnya pasti peduli.

salah satu contoh kepedulian itu penulis temukan pada artikel di blog kompasiana dengan judul "Menyoal Bangkai Binatang di Jalan Raya Umum" yang di tulis oleh Bapak. Amin Laili,
berikut tulisan nya

Pemandangan seperti kalimat judul di atas banyak dijumpai di Indonesia, tidak hanya di jalanan terpencil sepi penduduk, tetapi juga di keramaian kota. Biasanya berupa bangkai binatang liar yang dibenci manusia seperti tikus dan ular, tetapi tidak jarang terlihat pula bangkai kucing, anjing, atau ayam. Di beberapa daerah seperti Sumatera Selatan beberapa kali ditemukan bangkai kera di jalan lintas kendaraan. Yang kerap menjadi masalah adalah jika bangkai tersebut berada di badan jalan dan tak terhindarkan lagi bagi kendaraan yang melintas kecuali menerjang dan melindasnya. Jika pengendara berusaha menghindar, maka bukan tidak mungkin yang terjadi adalah hal fatal bagi kendaraan dan penumpangnya. Apa hendak dikata, andai tak tegapun akan ditega-tegakan melindas bangkai malang tersebut. Agar tidak merasa bersalah, setidaknya ada alasan pembenar seperti “Manusia saja dalam kondisi dilematis jika harus memilih untuk menyelamatkan jiwa yang masih hidup atau ‘mengamankan’ jasad yang sudah meninggal, maka harus menyelamatkan jiwa yang masih hidup, apalagi ini binatang, sudah mati lagi”, maka bruss…. dilindas saja dengan segala rasa bersalah, sedih, kasihan, marah, dan entah apalagi. 
Jika bangkai masih utuh atau setidaknya sedikit basah, akan menimbulkan efek psikologis yang lebih berat dibandingkan jika bangkai sudah mengering atau bahkan tinggal tulang belulang yang rata dengan jalan.  
Bagi pengemudi mobil, melindas bangkai binatang di jalan akan lebih ‘nyaman’ dibandingkan dengan pengemudi motor, namun yang paling ‘meresapi dan menghayati’ tentu pengguna jalan yang hanya berjalan kaki atau berlari karena tidak saja jarak dan pandangan yang sangat dekat dan gamblang, bahkan aroma anyir pun ikut ‘menyempurnakan’ nasib buruknya bertemu dengan bangkai di jalan. Pendek kata, bangkai di jalan sangat mengganggu pengguna jalan bagaimanapun bentuk bangkai itu, dan dengan cara apapun seseorang melintasinya. 
Pertanyaan yang muncul adalah mengapa bangkai binatang tersebut ada di jalanan? Apakah karena ‘kehendak’ sendiri binatang itu ataukah ‘ada yang memaksa’-nya berada di situ?  
Menjadi mafhum jika keberadaan bangkai tersebut di jalanan adalah ‘kehendak’ si binatang malang, misalnya ketika menyeberang jalan ‘kurang hati-hati’ dan ‘tidak tengok kiri-kanan’ kemudian tertabrak kendaraan dan mati di tempat serta tidak ada yang mengamankannya. Namun di banyak kasus, keberadaan bangkai binatang di badan jalan adalah ulah manusia yang sengaja melemparkan bangkai tersebut di jalan umum. Tidak jelas benar apa motiv melakukan hal itu. Apakah bermaksud mengamankan bangkai agar cepat mengering karena dilindas berulang-kali oleh kendaraan yang lewat, ataukah orang tersebut bermaksud menjauhkan diri, keluarga, dan tetangganya dari penyakit yang dibawa bangkai dan menganggap jalan umum sebagai tempat paling efisien mematikan kuman, misalnya dia berfikir kalau di jalan raya kuman akan mati karena tersengat oleh matahari. Atau bukan tidak mungkin ada motiv dendam kepada bangkai karena ketika masih hidup mengganggu rumah-rumah manusia. 
Apapun alasannya, membuang bangkai binatang di jalan raya umum adalah tindakan sangat tidak bertanggungjawab.  
Ditinjau dari segi kesehatan, justru akan semakin menyebarluaskan kuman penyakit yang berasal dari bangkai. Tidak saja menyebar di sekitar ‘TKP’ tetapi ke seluruh tempat yang dijangkau oleh kendaraan yang sempat melindasnya, termasuk ke garasi-garasi rumah. 
Pandangan moral pun akan sangat mengecam tindakan membuang bangkai di jalan raya seperti itu. Ada semacam pemaksaan agar orang berlaku sadis karena disudutkan untuk melindas jasad makhluk bertulang-berdaging. Itu tidak ubahnya pelatihan kekejaman gratis di ruang publik. Bukan memupuk sikap sayang binatang, tetapi menumbuhsuburkan mental ‘berdarah dingin’ kepada binatang, bahkan jika hal ini dibiarkan dan terus dibiasakan, akan merembet kepada sikap mental perlakuan yang sama diterapkan kepada manusia, cikal bakal tragedy kemanusiaan yang mengerikan.
Sudut pandang budaya pun sangat tidak dapat membenarkannya. Setiap masyarakat harus mengembangkan budaya yang bersumber dari nilai luhur dan bermuara kepada martabat dan kemajuan bangsa. Nilai luhur apapun mengajarkan bahwa bangkai harus diperlakukan sedemikian rupa agar jauh dari lingkungan kehidupan manusia dan yang paling lazim dan mudah adalah dengan cara dikubur. Disamping merupakan ajaran agama, manfaat yang dirasakan dari mengubur bangkai adalah menghindarkan kehidupan dari dampak buruknya, karena sedikitnya, bangkai di udara terbuka adalah sumber penyakit berbahaya dan menyebarkan aroma tidak sedap.  
Membayangkan sesosok tangan sedang berjalan menenteng bangkai tikus kemudian melemparkannya ke tengah jalan raya adalah membayangkan perbuatan sangat tidak terhormat, tidak sopan, dan buruk. Itu sosok tidak bermartabat. Andai dia orang yang berpendidikan serendah apapun, maka sungguh dia hanya pernah sekolah tetapi gagal mendidik dirinya dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh semua mata pelajaran. Pribadi yang terdidik itu berbudaya menawan, tetapi pembuang bangkai telah menghiasi perilakunya dengan budaya yang sangat tidak elok, budaya yang bukan milik bangsa yang ingin maju. 
Dari kacamata keindahan, apalagi,…. Bangkai di jalan raya umum merusak keindahan bagi masyarakat sekitar maupun ‘tamu-tamu’ yang kebetulan sedang melintas. Satu orang saja yang melakukan perbuatan itu, maka seluruh orang di sekitar itu akan dituduh perusak keindahan, jorok, dan label tidak enak lainnya. Nila setitik, rusak susu sebelanga.  
Sangat naïf jika memahami bahwa ‘noktah’ bangkai di jalan adalah ‘karya seni’. Silakan membuat karya seni dan menikmatinya sebebas-bebasnya berekspresi, tetapi ada bingkai yang membatasi, yaitu kanvas, dan jalan raya umum terlarang diperlakukan sebagai kanvas. Terjemahkanlah kata “kanvas” itu seluas mungkin selama tidak mengganggu ruang publik dan kepentingan umum, apalagi membahayakan kesehatan dan nyawa orang lain. 
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian masyarakat bangsa ini belum memiliki kesadaran yang baik tentang ruang publik, fasilitas umum, bersama-sama menjaga kesehatan dan keindahan, budaya bermartabat dan maju, dan sebagainya. Bangkai di jalan raya umum adalah cermin kita semua, karena bagaimanapun mereka adalah saudara sebangsa kita. Barangkali karena kita pun belum sepenuhnya menularkan banyak budaya terpuji kepada sesama kita, maka masih ada sebagian yang ringan tangan membuang bangkai tikus dan semacamnya di jalan raya. Padahal seharusnya jangankan membuang bangkai di sana, seandainya ada binatang yang tetabrak dan kemudian mati tergelepar di jalan pun, seharusnya kita menyingkirkannya dan menguburkannya, karena Tuhan menurunkan manusia ini memang menjadi imam (khalifah)  di muka bumi. Sudah seharusnya manusia menyayangi binatang, bahkan ketika binatang itu sudah mati sekalipun.

Sumber Tulisan :
http://www.kompasiana.com/amin.laili/menyoal-bangkai-binatang-di-jalan-raya-umum_552e313f6ea834e81b8b4570.

Semoga hal seperti gambar di bawah tidak terjadi


















Sumber Gambar : http://kakimotong.blogspot.co.id/2011/06/bangkai-kucing-juga-yang.html

Wasalam :-)

Minggu, 18 Desember 2016

Dzikir dan Do'a sesudah shalat

Setelah selesai shalat, lanjutkan dengan dzikir atau puji-pujian kepada Allah SWT, sebagai pendahuluan sebelum memohon do'a.

Lafadz-Lafadz dzikir :

Astaghfirullaahal 'adlim,
Astaghfirullaahal 'adlim,
Astaghfirullaahal 'adlim,

Allahumma antas-salaam waminkas-salaam, tabaarakta yaa dzal jalaali wal-ikram

Subhaanallah (33x)
Alhamdulillah (33x)
Allahu Akbar (33x)

Laa ilaaha illallah,
wahdahu laa syariikalah,
Lahul mulku walahulhamdu wahua'alaa kulli syai-in qadiir.
Allahumma laa manta limaa a'thaita walaa mu'tii limaa mana'ta,
walaa yanfa'u dzal jaddi minkal jaddu

terakhir di lanjut dengan Do'a

Sabtu, 17 Desember 2016

Bacaan Shalat Lengkap Teks Latin

NIAT SHALAT

I. Takbiratul Ihram

ALLAHU AKBAR

Allahu akbar kabiira wal hamdu lillahi kat-siira
wasubhaa nallahi bukratan wa-ashiilaa
Innii wajjaahtu wajhiya lilladzii fatharassa maawaati wal ardla
haniifan musliman wamaa anaa minal musyrikiina
Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamawaatii lillaahi Rabbil 'aalamiina
Laasyariikalahu wabidzaalika umirtu wa anna minal muslimin.

A’uudzu billahi minasy-syaithaanir raiim
Bismillaahir rahmaani rahiim # Al-hamdu-lillahi Rabbil ‘aalamiin
Ar-Rahmaanir Rahiim # Maaliki yaumid diin
IyyaaKa na’budu wa iyyaaKa nasta’iin
Ihdinash shiraathal mustaqiim
Shiraatal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhaalliin
Aamiin

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Qul Huwallahaahu Ahad
Allahush Shamad
Lam yalid wa lam yuulad
Wa lam yakul lahuu kufuawan ahad

II. Ruku'

ALLAHU AKBAR

Subhaana Rabbiyal 'Adzhiimi wabihamdihi
(baca 3x)

III. I'tidal

SAMI'ALLAAHU LIMAN HAMIDAH

Rabbanaa lakal hamdu mil ussamaawaati wa mil-ul ardli wamil-u maa syita min syai'in ba'du

IV. Sujud

ALLAHU AKBAR

Subhaana Rabbiyal A'laa wabi-hamdihi
(baca 3x)

V. Duduk Atara Dua Sujud

ALLAHU AKBAR

Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii wa'aafinii wa'fuannii

VI. Tasyahadud / Tahyat Awal

ALLAHU AKBAR

Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyi-baatu lillaah.
Assalaamu 'Alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabara-kaatuh
Assalaamu'alainaa wa'alaa 'Ibaadil-laahish shaalihiin.
Asy-hadu allaa ilaaha illallaah
Wa-Asyhadu anna muhammadar rasuulullah
Allaahuma 'shalli 'alaa sayyidinaa muhammad

VII. Tahyat Akhir

ALLAHU AKBAR

Attahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyi-baatu lillaah.
Assalaamu 'Alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabara-kaatuh
Assalaamu'alainaa wa'alaa 'Ibaadil-laahish shaalihiin.
Asy-hadu allaa ilaaha illallaah
Wa-Asyhadu anna muhammadar rasuulullah
Allaahuma 'shalli 'alaa sayyidinaa muhammad
Kamaa shallaita 'alaa sayyidinaa ibrahiima
wa'alaa aali sayyidinaa ibrahim
wabaarik 'alaa sayyidinaa muhammad
wa 'alaa aali sayyidina muhammad
Kamaa baarakta 'alaa sayyidinaa ibraahiima
wa 'alaa aali sayyidinaa ibraahiim
fil 'aalamiina innaka hamiidum majiid

ASSALAAMU 'ALAIKUM WARAHMATUL-LAAHI WABARAHKAATUH

Niat Wudlu

Niat Mengambil Wudhu :

Nawaitul wudhuu-a liraf'il hadatsil ashghari fardhan lillahi ta'aalaa

Artinya :
"Aku niat berwudlu" untuk menghilangkan hadas kecil fardlu karena Allah"
Teks Arab:

Do'a Setelah Mengambil Wudhu

Asyhadu alla ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu wa asyhadu anna muhammad 'abduhu warasuuluhu. Allahummaj' alni minat tawwaabiina, waj'alni minal mutathahhiriina, waj'alni min 'ibadikash shaalihiina.

Artinya :

"Aku bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan tidak ada yang menyekutukan bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah aku orang yang ahli taubat, dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang shaleh."
Teks Arab:

Jumat, 16 Desember 2016